Teman untuk Gergasi

Teman untuk Gergasi

Adalah sebuah desa yang indah dan damai. Hasil alam yang melimpah membuat rakyat desa tersebut hidup makmur. Akan tetapi, keadaan ini berubah. Ada desas-desus yang menyebut keberadaan gergasi hijau di Hutan Gelap. Hal ini membuat seluruh penduduk tidak lagi berani keluar sendiri-sendiri. Mereka tidak berani berladang jika sendirian. Akibatnya, penghasilan mereka pun menurun. Akan tetapi, tidak ada yang berani membuktikan keberadaan gergasi.


Pada suatu hari, seorang gadis kecil bernama Thalita bermain-main di tepi Hutan Gelap. Ia anak seorang petani di desa. Walau sudah mendengar desas-desus tentang gergasi, ia tidak percaya karena ia belum melihatnya sendiri.

“La… la… la…” Thalita bersenandung riang.

Thalita pun main keluar masuk hutan tanpa ragu, menikmati pemandangan sambil bermain riang. Tanpa disadari, ada orang lain yang sedang memerhatikannya dari balik belukar.

“Siapa di sana?” teriak Thalita saat menyadari ada yang bergerak-gerak di balik belukar.

Ternyata si gergasilah yang sejak tiadi mengintip dari balik belukar. Dia heran mengapa gadis kecil itu berani masuk ke dalam hutan seorang diri. Gergasi yang bersembunyi di balik belukar tidak mau menampakkan diri. Dia tidak ingin membuat Thalita ketakutan.

“Keluarlah! Aku tidak akan bilang siapa-siapa,” kata Thalita.

Gergasi itu akhirnya menampakkan dirinya dengan malu-malu. Thalita terkejut saat pertama kali melihatnya. Tapi anehnya, dia sedikit pun tidak merasa takut. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat.

“Hai! Aku Thalita. Kamu siapa?” sapanya.

“A…aa…ku… Jjj…Ju…Julian…,” jawab gergasi itu.

Thalita mendekat dan mengulurkan tangannya. Julian ragu-ragu, tapi mereka berjabat tangan. Thalita terlihat begitu mungil di dekat Julian.

“Kamu besar sekali,” ujar Thalita.

Mereka pun berbincang-bincang. Julian bercerita tentang dirinya. Thalita akhirnya mengetahui kenapa tubuh Julian menjadi begitu besar dan berwarna hijau. Ia dilahirkan dengan kelainan hormone yang menyababkan gigantisme atau tubuh yang besar. Ditambah lagi, ia sangat suka makan dedaunan dan sayuran hijau. Oleh sebab itulah tubuhnya menjadi sehat, besar, dan gagah walaupun warna tubuhnya pun jadi berubah hijau. Ia sudah mendengar desas-desus tentangnya. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mau menakuti orang lain. Semua orang memanggapnya jahat. Padahal, ia sama sekali tidak jahat.

Baru kali ini Julian merasa mempunyai teman. Selama ini, dia hanya berteman dengan para hewan penghuni hutan. Tak pernah ada yang diajaknya bicara. Thalita pun senang karena mendapat teman baru. Mereka bermain bersama hingga sore menjelang.

“Jadi, orang-orang di desaku ternyata salah besar. Kamu teman yang sangat baik, Julian!” kata Thalita.

“Terima kasih. Kamu juga baik dan kamu adalah temanku yang pertama. Semoga kita akan selalu berteman,” ujar Julian.

Keesokan harinya, Thalita diam-diam kembali menemui Julian.

“Aku ingin memperkenalkanmu dengan orang-orang di desaku agar mereka tidak salah paham lagi terhadapmu,” kata Thalita.

“Aaa..paaa? T…tii…ttiidak mau! Nanti mereka menyakitiku. Aku suka tinggal di hutan ini. Aku takut mereka mengusirku,” tolak Julian.

“Tenang saja! Percayalah padaku,” ujar Thalita yakin.

Julian akhirnya setuju. Hari ini akan menjadi hari yang penting bagi Julian. Ia akan muncul di hadapan orang desa. Sebagian besar warga desa ada di ladangnya. Kemunculan Julian tentu akan sangat mengejutkan

“Ada yang ingin kutunjukkan pada kalian semua,” teriak Thalita.

Seluruh warga yang melihat terkaget-kaget. Bahkan ada yang langsung kabur menyelamatkan diri. Ada pula yang menarik anak-anak mereka menjauh. Mereka sangat terkejut melihat ada makhluk begitu besar berwarna hijau. Tapi anehnya, tidak ada seorang pun yang merasakan getaran ketakutan. Sesungguhnya, Julian memang tidak memancarkan wajah jahat. Justru tampangnya sangat lugu.

“Dia Julian dan tidak jahat,” kata Thalita.

“Hh…Haaloo…” Julian menyapa semua orang.

Orang-orang saling berpandangan. Kemudian Thalita menceritakan semuanya. Sedikit-sedikit, orang desa mulai berani mendekati Julian. Melihat keramahan Julian, orang-orang mulai menyukainya. Ketakutan mereka lambat laun menghilang. Julian sungguh senang. Ia sangat berterima kasih pada Thalita. Hari ini sungguh tak terlupakan buat Julian.

Sejak saat itu, Julian adalah bagian dari warga desa tempat Thalita tinggal. Ia tak segan membantu pekerjaan warga di ladang. Keadaan di desa itu kembali normal. Julian pun disukai anak-anak karena ia lucu dan ramah. Kini, Julian tidak kesepian lagi. Thalita telah membawa banyak teman untuk Julian.


Share:Del.icio.us!Digg!Facebook!Google!

 
Shout Box

ShoutMix chat widget
Bee Live Chat

Staff Online

Marketing Bee 1
Marketing Bee 2
Marketing Bee 3

----------------------------------------------

Billing 1
Billing 2

----------------------------------------------

Webmaster
Facebook Fans Box
Page Pustaka Lebah on Facebook
Shout Box
Bee Live Chat
Facebook Fans Box