Si Leungli
Written by Derry Hanafiah F.    Friday, 11 September 2009 15:19    PDF Print Email

Si Leungli

Dini Annisa

 

Pada suatu masa, hiduplah tujuh orang kakak beradik yatim piatu. Mereka adalah gadis-gadis yang menjadi kembang desa yang dikenal karena kecantikannya. Ketujuh kakak beradik itu tinggal di sebuah gubuk sederhana dan bekerja sebagai penumbuk padi. Mereka mendapatkan upah beras segelas jika berhasil menumbuk padi seikat. Sejak ditinggal oleh kedua orangtuanya, mereka selalu berusaha hidup sederhana.

Dari ketujuh gadis itu, Si Bungsu Rarang-lah yang mempunyai perangai paling rajin dan baik hati. Hal ini membuat orang-orang di desanya lebih menyukai Si Bungsu. Sayangnya, keenam kakaknya selalu memanfaatkan kebaikannya itu. Terkadang, Si Bungsulah yang harus menyelesaikan pekerjaan kakak-kakaknya menumbuk padi agar pemilik padi tidak marah. Jangankan imbalan yang di dapat Si Bungsu, ucapan terima kasih atas pekerjaannya pun tidak ia dapat.

  Suatu hari, tujuh gadis itu hendak mencuci pakaian di sungai. Sesampainya di tepi sungai, Si Sulung menyerahkan bakul cuciannya ke tangan Si Bungsu Rarang.

“Aku, kan, kakak sulungmu. Sudah sepantasnya kau membantuku mancucikan semua bajuku,” tegur Si Sulung garang.

“Baik, Kakak. Letakkan saja bakul cucianmu di sini,” jawab Si Bungsu dengan ramah.

Kemudian datang lagi kakak kedua, “ Hei, Bungsu. Kulihat cucianmu tidak banyak. Hari ini aku sibuk sekali. Tolong cucikan pakaianku, ya!” ujar kakak kedua.

Si Bungsu mengangguk dan berkata, “Akan segera kucuci semua bajumu, Kak.”

Begitulah seterusnya. Semua kakak Rarang menggunakan berbagai alasan untuk memperdaya adik bungsunya itu. Senja hampir tiba, namun Si Bungsu belum lagi menyelesaikan seluruh cuciannya. Tubuhnya keletihan. Tenaganya terkuras. Tapi dia harus menyelesaikan semua cucian kakaknya. Saat malam mulai pekat, Si Bungsu baru bisa selesai mencuci. Sesampainya di rumah, jangankan disuguhi makan malam yang nikmat, segelas air putih penghilang dahaga pun tidak ia peroleh.

“Mana cucianku? Kok lama sekali? Dasar Lamban! Bagaimana kau bisa kaya jika kerjamu lamban begini,” umpat kakak sulung semena-mena. Si Bungsu hanya dapat tertunduk.

“Hei, Bungsu. Mengapa cucianku masih berpasir seperti ini! Dasar kau tak becus bekerja!” tambah kakak kedua.

“Pakaianku ini malah dibuatnya koyak. Kau harus menggantinya,” tukas kakak kelima.

Si Bungsu sangat sedih. Tubuh letihnya terasa mau ambruk. Ia tak lagi punya kekuatan untuk menangis. Ia jatuh tertidur tanpa sempat melaukan pekerjaannya menumbuk padi. Jadialah ia tidak mendapatkan beras hari ini. Keesokan harinya, ia terbangun dengan perut lapar. Akan tetapi, ia tak punya beras untuk ditanak. Kakak-kakaknya tak ada yang memedulikannya. Malah, Si Bungsu disuruh menimba air di sumur, padahal mengangkat tubuh sendiri pun Si Bungsu hampir tak kuasa.

Si bungsu tak kuasa menahan perasaannya. Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia berlari ke dalam hutan. Ia sampai  di tepi sebuah danau. Ia bersimpuh di atas sebuah batu di tepi danau. Airmatanya mengalir dan ia tersedu sampai ia kelelaha. Di sana, seolah Si Bungsu ingin menumpahkan semua perasaannya pada danau dan batu yang bisu. Tiba-tiba, di permukaan danau muncullah seekor ikan mas yang warnanya sangat berkilauan. Ia memanggil Si Bungsu Rarang

“Apakah yang membuat gadis cantik dan baik sepertimu sampai berurai air mata begini?” kata ikan mas.

Si Bungsu sangat terkejut melihat seekor ikan dapat berbicara. Ia menjawab ikan itu dengan terbata-bata.

“A..a...ku...Aku sedih karena kakak-kakakku tidak menyayangiku. Mereka memperlalukan aku dengan buruk. Aku senang bisa membantu mereka, tapi aku tak sanggup jika terus diperlakukan bagai pesuruh,” isak Si Bungsu.

Bersama ikan mas, ia mendapatkan teman untuk mencurahkan isi hatinya. Seharian ia bersama-sama ikan mas di pinggir danau. Ia merasa kekosongan dan kesepiannya telah terisi dengan kehadiran ikan mas itu. Ia pun pulang dengan hati yang riang. Hari-harinya kini menjadi lebih baik. Ia dapat berbagi cerita dengan sahabat barunya, Si Leungli, demikian nama ikan mas itu. Kakak-kakaknya pun bingung melihat perubahan pada diri Si Bungsu Rarang. Bahkan, sekarang Si Bungsu sudah berani menolak perintah kakak-kakaknya jika memang tidak sanggup.

Keenam kakak Rarang merasa penasaran dengan perubahan adik bungsunya. Mereka pun membuntuti Rarang ke dalam hutan. Sejak Rarang sering bermain di hutan, kelakuannya berubah. Oleh sebab itulah mereka membuntutinya. Di dalam hutan, kekenam kakak Rarang melihat seekor ikan mas berbicara dengan adik bungsunya dengan sangat akrab. Yang ada dalam pikiran mereka saat itu adalah menangkap dan menjadikan ikan mas itu santapan lezat karena ukurannya cukup besar. Mereka pun menyusun rencana.

Sore harinya, sepulangnya Rarang dari menumbuk pasi, ia terkejut melihat kakak-kakaknya menyiapkan makan malam.

“Wah, ada acara apa ini , Kak? Mengapa Kakak memasak segini banyak?” tanya Rarang.

“Sudahlah, tidak usah banyak tanya. Cepat kita makan pepes ikan ini. Mumpung masih hangat. Perutku lapar sekali,” ujar kakak keempat.

Rarang merasa senang karena kakak-kakaknya mulai memperhatikan dirinya. Ia pun makan dengan lahap.

Keenam kakak Rarang saling lirik penuh kemenangan.

“Ikan mas ini kuambil dari damau di dalam hutan sana, Dik Rarang. Masih segar, jadi rasanya lezat,” ujar kakak ketiga.

Rarang terkejut bukan kepalang. Ia sampai tersedak. Ia langsung beranjak dan lari ke dalam hutan. Di tepi danau, Rarang menangis tersedu.

“Lengli... Leungli... Maafkan sahabatmu yang tak berguna ini. Maafkan aku,” isak Rarang. Akan tetapi, tak ada lagi keajaiban yang muncul dari dalam danau. Rarang pun pulang dengan langkah gontai.

Sesampainya di rumah, Ia mengambil sisa tulang-belulang Si Leungli yang telah dibuang di bak sampah. Dengan berurai air mata, Si bungsu memutuskan untuk pergi dari rumah dan membangun hidupnya sendiri. Dengan bekal seadanya, si Bungsu Rarang membangun gubuk di tepi hutan. Ia pun mengubur Leungli di halaman rumahnya.

Tak disangka, keesokan harinya, di tempat Rarang mengubur Leungli, tumbuhlah sebatang pohon yang daunnya berkilau karena mengandung emas. Ternyata Leungli tidak sepenuhnya meninggalkan Rarang. Ia tetap ada untuk rarang. Karena pohon itu, rumah Rarang menjadi sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru karena menganggap pohon itu sakti. Anehnya, tak ada satu pun orang yang dapat memetik daun atau buah dari pohon emas itu, melainkan Rarang.

Hidup Rarang berubah menjadi serba berkecukupan. Pohon emas itu menjadi berkah untuk Rarang,. Akan tetapi, ia tidak lupa untuk membagikan hartanya kepada orang yang membutuhkan. Ia tetap menjadi gadis yang cantik paras maupun hatinya. Kakak-kakak Rarang juga turut mendengar nasib baik adiknya. Mereka malu akan kebodohan yang mereka perbuat pada rarang. Akhirnya, mereka hanya bisa meratapi nasib malang mereka dan Rarang menikmati hasil kebaikan dan kecantikan hatinya.


Share:Del.icio.us!Digg!Facebook!Google!

 
Shout Box

ShoutMix chat widget
Bee Live Chat

Staff Online

Marketing Bee 1
Marketing Bee 2
Marketing Bee 3

----------------------------------------------

Billing 1
Billing 2

----------------------------------------------

Webmaster
Facebook Fans Box
Page Pustaka Lebah on Facebook
Shout Box
Bee Live Chat
Facebook Fans Box