Pulau Impian atau Pulau Mimpi?
Written by Derry Hanafiah F.    Friday, 11 September 2009 15:18    PDF Print Email

Pulau Impian atau Pulau Mimpi?

 

Di negeri Hopalopa, tinggallah, Ranana, peri kecil yang baik hati. Ia sering mengunjungi sahabatnya, Dopzdopz, si Lumba-Lumba.

“Dopzdopz, semalam aku bermimpi aneh sekali,” kata Ranana.

“Coba ceritakan padaku,” ujar sahabatnya itu.

“Dalam mimpi itu, Aku punya teman baru, Mayami, Siva, dan Atar. Kami bermain dengan gembira. Saat bermain, Mayami mengusulkan untuk membuat sebuah pulau terapung,” papar Ranana.

          Kemudian Ranana melanjutkan ceritanya. Dalam mimpinya, Ranana mencari sebuah pohon untuk diambil daunnya dan dibuat pulau terapung. Namun, betapa kagetnya ia saat menemukan daun-daun di pohon itu berukuran kecil, tidak seperti di negerinya. Kalau di negerinya, dedaunan berukuran besar dan bisa jadi pulau terapung.

          Saat melihat daun itu berukuran kecil, Ranana langsung memberi tahu teman-temannya. Tapi, teman-temannya itu malah menertawakan Ranana. Sejak dahulu, ukuran daun-daun itu memang sudah seperti itu. Meski bingung, Ranana hanya bisa diam. Dia merasa memang ada yang aneh di negeri itu.

          “Kita buat pulau dari kayu saja,” usul Siva, teman Ranana yang berambut pendek.

          “Kayu, kan, berat,” sahut Mayami.

“Kalau begitu, kita pakai plastik saja,” kata Atar.

          “Ya, benar, kita pakai botol plastik saja.” Mayami menambahkan.

          Ranana masih terdiam. Dia masih memikirkan kenapa daun-daun pohon berubah jadi kecil.

          “Ayo, Ranana, kita cari botol-botol plastik,” ajak teman-temannya.

          Ranana pun segera mengikuti ketiga temannya itu. Dia belum pernah melihat botol plastik! Seperti apa, ya? pikir Ranana riang. Ranana dan teman-temannya sampai di tempat tumpukan berbagai macam benda. Ranana kaget karena tidak menyangka bentuk botol plastik seperti itu.

          “Hei, jadi, botol plastik seperti ini, ya?” tanya Ranana.

“Ranana ada-ada saja, deh. Plastik, ya, memang seperti ini bentuknya,” ucap Atar.

          Ranana kebingungan melihat tempat yang dipenuhi sampah itu. Tempat itu kotor dan bau. Tidak seperti di negeri Hopalopa yang bersih dan indah. Bunga  berwarna-warni bermekaran di mana-mana. Ranana menyampaikan hal itu kepada teman-temannya.

          “Oh, jadi, kamu mau bilang, kita bikin negeri seperti itu di pulau terapung? Yang penuh dengan bunga-bunga dan indah? Boleh juga,” sahut Siva.

          Maksud Ranana bukan itu, tapi tidak apa-apa. Bagus juga kalau mereka membuat negeri seperti negeri Hopalopa.

          “Tapi, dilengkapi dengan lapangan olahraga dan tempat bersantai, ya. Jangan lupa juga pasang parabola supaya tidak ketinggalan informasi,” tambah Atar riang.

“Ayo!” seru Ranana meskipun ia bingung membayangkan apa itu parabola. Di Hopalopa tidak ada benda dengan nama itu. Tapi,  ia begitu bersemangat sehingga lupa untuk bertanya kepada teman-temannya.

          Akhirnya, keempat anak itu sibuk memisahkan botol plastik dari sampah-sampah di tempat tersebut. Mereka tampak bersemangat, apalagi Ranana. Akhirnya, ia tahu apa yang disebut botol plastik itu. Ternyata, tidak bisa dimakan. Tapi, bisa dipakai untuk mengumpulkan madu di hutan, pikirnya.

          “Kata Pak guru, sampah plastik itu baru bisa hancur dalam waktu yang sangat lama. Kalau dibiarkan, tanah bisa tercemar,” jelas Mayami.

“Iya, seharusnya, kita jangan sering-sering minum dengan botol-botol plastik, ya,” tambah Atar.

          “Oh,” ucap Ranana, “jadi, ini tempat minum, ya. Kalau  aku, minum langsung dari kelopak bunga yang mekar,” lanjutnya.

          Teman-temannya melihat Narana dengan bingung.

          “Ayo, kumpulkan botol plastik ini sebanyak-banyaknya. Kita akan membuat sebuah pulau terapung. Pulau yang modern,” teriak Atar bersemangat.

Ranana tidak sabar membayangkan tempat yang disebut teman-temannya itu, apalagi parabola. Ranana ingin sekali melihat parabola.

“Kita akan segera membangun pulau terapung!” seru Atar.

“Dengan parabola!” tambah Ranana bersemangat.

Botol-botol plastik itu akan mereka gunakan sebagai “tanah” pulau itu. Lalu, di atasnya, akan dibangun negeri yang indah, penuh dengan bunga warna-warni. Wow, pasti bagus sekali pulau terapung itu!

“Lalu, bagaimana? Pulaunya jadi?” tanya Dopzdopz penasaran.

“Sayang sekali, Dopzdopz. Aku keburu bangun….” jawab Ranana sedih.

“Yah…,” Dopzdopz ikut sedih. Ia juga ingin melihat parabola itu.

“Hoaahh…, aku mengantuk lagi, Dopzdopz.” Ranana menguap lebar. Ia juga tidak sabar untuk tidur lagi. Ia ingin melihat pulau terapung yang dibuatnya bersama teman-temannya itu.

“Ya, sudah, kalau mimpimu itu berlanjut lagi, ceritakan lagi, ya,” kata Dopzdopz.

Sore itu, Dopzdopz berenang dengan gembira. Lalu, sampailah ia pada tempat yang terlihat asing. Lumba-lumba lincah ini segera mendekat. Saat melihatnya dengan jelas, Dopzdopz begitu terkejut. Ia melihat seorang anak kecil sedang menyiram bunga warna-warni. Wajah anak itu berbintik-bintik. Di belakangnya, ada seorang anak berambut pendek sedang membaca buku. Ada juga anak laki-laki sedang berolahraga bersama temannya. Lalu, Dopzdopz melihat sesuatu yang aneh di atap rumah. Benda bulat seperti payung. Oh, jangan-jangan, itu parabola, pikir Dopzdopz.

          Ini pasti pulau terapung yang ada dalam mimpi Ranana. Pulau terapung botol plastik itu bukan hanya mimpi! Dopzdopz tak sabar segera memberi tahu sahabatnya itu. Ia segera berenang dengan cepat. Ranana harus segera dibangunkan!


Share:Del.icio.us!Digg!Facebook!Google!

 
Shout Box

ShoutMix chat widget
Bee Live Chat

Staff Online

Marketing Bee 1
Marketing Bee 2
Marketing Bee 3

----------------------------------------------

Billing 1
Billing 2

----------------------------------------------

Webmaster
Facebook Fans Box
Page Pustaka Lebah on Facebook
Shout Box
Bee Live Chat
Facebook Fans Box