|
BALAS BUDI SI PEMBUAT SEPATU
Tersebutlah seorang pembuat sepatu yang sangat miskin bernama Pak Tumnus. Ia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali sehelai bahan kulit yang hanya cukup untuk membuat sepasang sepatu. Tetapi ia tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Ia bermaksud membuat sepatu itu besok. Malam ini, ia meletakkan bahan kulit tersebut di atas meja kerjanya kemudian ia pergi tidur.
Keesokan harinya, saat ia hendak membuat sepatu dari sisa bahan yang ia punya, ia tak lagi melihat bahan itu di meja. Alih-alih bahan kulit yang semalam ia letakkan, ia malah melihat sepasang sepatu yang sangat indah di atas meja. Sepatu itu begitu mulus tanpa cacat. Pak Tumnus begitu heran sekaligus senang karena ia bisa menjual sepatu itu dengan harga tinggi. Hari itu juga sepatu indah tersebut laku terjual dengan harga yang cukup mahal. Pak Tumnus akhirnya memutuskan untuk membeli bahan kulit sebagai modal untuk membuat sepatu.
Karena harga-harga di pasar sedang melambung, Pak Tumnus hanya bisa membeli bahan kulit untuk dua pasang sepatu. Sepulangnya dari pasar, Pak Tumnus meletakkan belanjaannya kemudian langsung bersiap untuk istirahat karena seharian ini sangat melelahkan. Aneh bin ajaib! Keesokan harinya ia kembali menemukan sepatu yang tak kalah bagus dari kemarin di atas meja kerjanya. Kali ini tak hanya sepasang, melainkan dua pasang sekaligus.
Kejadian ini pun terus berulang. Saat ia berhasil menjual sepatu-sepatu itu, ia kembali membeli bahan yang lebih banyak. Akan tetapi, bahan-bahan kulit itu kembali berubah menjadi sepatu-sepatu yang indah dengan sendirinya. Kehidupan Pak Tumnus kian lama kian membaik berkat “sepatu-sepatu misterius” itu. Ia mendapat penghasilan berlebuh dari menjual sepatu-sepatu bagus itu.
Pak Tumnus mulai penasaran walaupun sebenarnya ia bersyukur dengan keadaannya saat ini. Ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Malam ini ia bertekat untuk bangun di tengah malam. Ia ingin menengok ke ruang kerjanya dan mencari tahu jawaban atas semua keanehan ini.
“Malam ini aku harus bangun,” katanya pada diri sendiri.
Ia pun memutuskan untuk tidur lebih awal agar bisa terbangun tengah malam. Saat Pak Tumnus terbangun di tengah malam, ia mengendap-endap keluar kamar. Ia berjalan perlahan menuju ruang kerjanya. Saat itu, ia melihat cahaya dari ruang kerjanya. Padahal, ia yakin sudah mematikan semua lampu sebelum tidur. Pak Tumnus pun mengintip ke ruang kerjanya secara sembunyi-sembunyi.
Pembuat sepatu itu terkejut bukan kepalang. Ia melihat dua sosok mungil tetapi tampak tua dan berjanggut. Ternyata mereka adalah kurcaci baik hati yang selama ini telah menolong Pak Tumnus. Dari balik pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka, Pak Tumnus terus memerhatikan kedua kurcaci itu bekerja sepanjang sisa malam. Mereka berhasil menyelesaikan sepuluh pasang sepatu malam ini. Tentu keuntungan bagi Pak Tumnus. Tokonya semakin ramai dan terkenal karena sepatu buatannya sangat bagus.
“Aku harus membalas kebaikan kurcaci-kircaci itu,” tekad Pak Tumnus.
Hari itu, ia tidak meninggalkan bahan kulit di atas meja kerjanya. Ia meletakkan dua setel jaket dan dua pasang sepatu kulit berukuran mungil. Ia juga menuliskan sesuatu di atas secarik kertas. Semua itu ia kemas dengan apik sebagai hadiah bagi para kurcaci yang selama ini membantunya. Hadiah itu diletakkan di tempat biasa ia meletakkan bahan kulit. Kemudian, Pak Tumnus pergi tidur dengan perasaan senang.
Saat kedua kurcaci baik hati kembali ke ruang kerja Pak Tumnus di malam hari, mereka terkejut bukan kepalang. Bukannya bahan kulit yang mereka temukan, mereka malah menemukan bungkusan hadiah bertuliskan
Untuk dua kurcaci baik hati,
terima kasih banyak.
Salam hangat,
Tumnus
Dua kurcaci baik hati tersebut sangat senang. Selama mereka membantu manusia, mereka belum pernah sekali pun mendapatkan hadiah. Mereka sangat terharu. Hal ini malah membuat mereka semakin semangat untuk membantu Pak Tumnus.
Esok harinya, Pak Tumnus tidak hanya menemukan sepatu-sepatu buatan dua kurcaci. Ia juga menemukan jaket kulit, tas kulit, dan berbagai macam benda yang terbuat dari kulit. Berkat bantuan dua kurcaci ini, Pak Tumnus berinisiatif memperbesar tokonya. Ia pun mampu membayar seorang karyawan untuk membantunya menjaga toko.
Kini, hidup Pak Tumnus tak lagi susah. Ia dapat menghidupi dirinya dengan baik. Akan tetapi, dia tak lantas menjadi sombong dan lupa diri. Ia selalu menyelipkan makanan dan hadiah kecil untuk dua kurcaci setiap malam. Jasa dua kurcaci itu tak akan pernah ia lupakan. Ia juga memberikan pelajaran keterampilan membuat sepatu kulit bagi orang-orang miskin di sekitar rumahnya supaya mereka dapat bekerja dan memperbaiki nasib.
Hanya satu hal yang membuat Pak Tumnus penasaran, ia tak pernah bisa berbicara secara langsung dengan dua kurcaci baik hati. Mereka langsung menghilang jika Pak Tumnus hendak menghampirinya. Tapi, biarlah mereka menjadi misteri. Share:   
|